ekonomi perilaku

mengapa emosi manusia membuat pasar finansial menjadi sistem chaos

ekonomi perilaku
I

Pernahkah kita merasa begitu bodoh saat membuat keputusan soal uang? Mungkin kita ikut-ikutan membeli saham karena melihat teman pamer untung di media sosial. Atau, kita panik menjual aset investasi saat harganya tiba-tiba turun sedikit saja. Jika teman-teman pernah merasakannya, saya ingin mengajak kita mundur sejenak ke tahun 1720.

Mari kita berkenalan dengan Sir Isaac Newton. Ya, ilmuwan jenius yang merumuskan hukum gravitasi itu. Newton adalah salah satu otak paling cemerlang dalam sejarah peradaban manusia. Namun, tahukah teman-teman bahwa sang jenius ini pernah kehilangan hampir seluruh kekayaannya di pasar saham?

Saat itu, ada sebuah perusahaan bernama South Sea Company yang sahamnya sedang meroket gila-gilaan. Awalnya Newton sudah untung dan menjual sahamnya. Tapi, melihat teman-temannya mendadak kaya raya karena harga saham terus naik, pertahanan logikanya runtuh. Ia masuk lagi, membeli di harga puncak, dan tak lama kemudian gelembung ekonomi itu pecah. Newton bangkrut.

Dalam rasa frustrasinya, Newton menuliskan sebuah kalimat yang sangat legendaris. Ia berkata, "Saya bisa menghitung pergerakan benda-benda langit, tapi saya tidak bisa menghitung kegilaan manusia."

Kisah Newton ini adalah pintu masuk yang sempurna bagi kita. Ini bukti sejarah bahwa di hadapan uang, secerdas apa pun otak kita, logika sering kali dibajak oleh sesuatu yang jauh lebih purba: emosi.

II

Selama berabad-abad setelah era Newton, para ahli ekonomi punya sebuah asumsi yang sebenarnya agak lucu. Mereka menciptakan konsep yang disebut Homo economicus. Ini adalah asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional super-dingin yang selalu berhitung untung-rugi bagai kalkulator berjalan.

Menurut teori ekonomi klasik, pasar finansial itu efisien. Harga saham atau aset bergerak berdasarkan informasi yang logis. Kalau kinerja perusahaan bagus, harga naik. Kalau buruk, harga turun. Sesederhana itu.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar bertindak seperti robot saat berhadapan dengan uang? Tentu saja tidak.

Di sinilah lahir sebuah cabang ilmu yang mengubah segalanya: ekonomi perilaku atau behavioral economics. Para psikolog seperti Daniel Kahneman mulai mengawinkan ilmu psikologi dengan ekonomi. Mereka meneliti secara ilmiah bagaimana otak kita sebenarnya bekerja saat mengambil keputusan finansial.

Hasilnya? Mereka menemukan bahwa otak manusia penuh dengan cacat bawaan atau cognitive bias. Salah satu temuan terbesarnya adalah loss aversion atau penghindaran kerugian. Secara biologis, rasa sakit yang kita alami saat kehilangan uang 100 ribu rupiah itu dua kali lipat lebih kuat daripada rasa senang saat kita mendapatkan 100 ribu rupiah.

Kita lebih takut miskin daripada ingin kaya. Ketakutan ini diam-diam menyetir setiap keputusan finansial kita tanpa kita sadari.

III

Sekarang, mari kita bayangkan skala yang lebih besar. Jika satu individu saja—bahkan sekelas Newton—bisa mengambil keputusan irasional karena terbawa emosi, lalu apa yang terjadi jika jutaan manusia irasional ini berkumpul di satu tempat yang bernama pasar finansial?

Di sinilah misteri terbesarnya. Mengapa pasar finansial tidak pernah bisa diprediksi secara akurat, bahkan oleh kecerdasan buatan super canggih sekalipun?

Banyak orang mengira pasar finansial adalah sebuah mesin. Jika kita tahu cara kerja geriginya, kita bisa memprediksi masa depan. Padahal, para ilmuwan memandang pasar finansial bukan sebagai mesin, melainkan sebuah sistem adaptif yang kompleks (complex adaptive system). Pasar lebih mirip seperti sekawanan burung di udara atau ekosistem cuaca.

Namun, ada satu perbedaan brutal antara pasar finansial dan cuaca. Seburuk apa pun ramalan cuaca hari ini, cuaca di luar sana tidak akan berubah karena mendengar ramalan tersebut. Hujan tidak peduli dengan apa kata pembaca berita di TV.

Lalu, bagaimana dengan pasar finansial? Pernahkah kita berpikir apa jadinya jika jutaan otak yang penuh rasa takut dan serakah ini saling membaca prediksi satu sama lain secara real-time?

IV

Inilah rahasia besarnya: pasar finansial adalah sistem kekacauan tingkat dua, atau Level 2 Chaos.

Kekacauan tingkat dua adalah sebuah sistem yang berubah ketika ia diprediksi. Ketika seorang analis terkenal memprediksi saham A akan naik besok, orang-orang akan bergegas membelinya hari ini. Akibatnya, saham itu naik hari ini, bukan besok. Prediksi itu sendiri yang mengubah kenyataan.

Dan mengapa kenyataan itu berubah begitu cepat dan liar? Karena pada dasarnya, pasar finansial bukanlah kumpulan angka. Pasar finansial adalah cermin raksasa dari sistem saraf manusia.

Ketika grafik naik, otak kita membanjiri tubuh dengan dopamine. Senyawa kimia ini membuat kita merasa euforia, serakah, dan kebal dari risiko. Kita merasa pintar. Inilah yang menciptakan gelembung atau bubble. Sebaliknya, ketika grafik tiba-tiba anjlok, bagian otak kita yang bernama amygdala—pusat rasa takut—mengambil alih. Otak kita merespons grafik merah seolah-olah kita sedang dikejar harimau di hutan. Kita panik, lalu menjual semuanya di harga murah.

Pasar finansial menjadi sistem yang sangat chaos karena ia digerakkan oleh lingkaran umpan balik (feedback loop) dari emosi-emosi biologis ini. Ketakutan memicu penjualan, penjualan menurunkan harga, harga yang turun memicu ketakutan baru yang lebih besar. Logika matematika sama sekali tidak berlaku saat amigdala sedang berteriak.

V

Mempelajari semua ini, apa yang bisa kita bawa pulang?

Pertama, saya ingin kita berhenti menghakimi diri sendiri. Jika teman-teman pernah rugi karena panik atau ikut-ikutan, ingatlah bahwa kita hanya sedang menjadi manusia. Otak kita memang didesain oleh proses evolusi untuk bertahan hidup di padang sabana jutaan tahun lalu, bukan untuk membaca grafik candlestick atau bermain crypto. Bahkan Newton pun kalah oleh neurokimianya sendiri.

Kedua, ini mengubah cara kita memandang literasi finansial. Mempelajari rasio keuangan atau analisis teknikal itu memang penting. Namun, ilmu ekonomi yang paling krusial sebenarnya adalah ilmu mengenal diri sendiri.

Kita tidak akan pernah bisa menjinakkan kekacauan pasar finansial. Pasar akan selalu liar, dipenuhi euforia dan kepanikan massal. Satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita merespons kekacauan tersebut.

Pada akhirnya, senjata investasi terbaik bukanlah algoritma, bukan juga informasi orang dalam. Senjata terbaik itu adalah kesadaran emosional. Karena di tengah pasar yang bertingkah seperti sistem chaos, orang yang paling rasional dan bisa mengendalikan diri adalah orang yang akan bertahan paling akhir.